Jangan Ada Aroma Penindasan dalam Pendidikan!

4/08/2018

Setiap institusi pendidikan tentunya mengharapkan kualitas yang baik, namun kenyataannya tidak selamanya demikian. Perihal problematik dalam dunia pendidikan adalah kualitas atau mutu yang rendah. Saking peliknya, pelaku pendidikan (dosen-mahasiswa) saling tuding sebagai biangnya. Di satu sisi dosen menuding bahwa mahasiswa sebagai bahan baku yang memang dasarnya berkualitas rendah, sehingga sehebat apapun dosen tidak akan berpengaruh pada kualitas mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa pun menampik bahwa kualitas mereka cukup signifikan bersumber dari dosen.

Berbekal brainstorming yang saya lakukan di sela-sela proses pembelajaran ditemukan kesimpulan bersama bahwa salah satu pemicu rendahnya kualitas mahasiswa karena mahasiswa semata dipandang sebagai objek yang tidak mengetahui dan selalu akan diisi. Hal lain yang dirisaukan adalah karena mekanisme evaluasi hanya pada satu dimensi saja yaitu hasil jawaban tertulis.

Menyimak kondisi demikian, maka sebagai bagian dari sistem pembelajaran, sudah selayaknya dosen melakukan refleksi atas proses yang telah dilakukan. Sadar atau tidak, ini adalah suatu penindasan. Penindasan tidak selalu dalam bentuk fisik yang biasa dikenal dengan istilah lokal "dirotan" (dipukul pakai rotan), melainkan juga dapat berwujud dalam bentuk pengetahuan.

Sedikit meminjam istilah Paulo Freire bahwa pendidikan yang menindas adalah pendidikan yang tak ubahnya menjadikan murid (termasuk mahasiswa)  sebagai “bejana” kosong. Pendidikan layaknya tempat penabungan, dimana murid menjadi celengan dan guru (termasuk dosen) adalah penabungnya. Inilah konsep pendidikan “gaya bank”. Ruang gerak untuk kegiatan murid hanya terbatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan. Dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakakan sebuah pemberian dari seseorang yang berpengetahuan kepada mereka yang dianggapnya tidak memiliki pengetahun atau “bodoh”. Inilah penindasan yang terselubung itu.

Lantas jika sudah demikian, perihal apa yang perlu dilakukan? Hemat saya, pembenahan perlu dilakukan di beberapa aspek. Pertama, sudah sepatutnya kurikulum memberi ruang kepada terciptanya kreativitas mahasiswa yang mendukung dunia kerja. Kondisi ini boleh jadi telah dilakukan, namun masih sebatas dokumen. Karena itu, perihal kedua adalah proses pembelajaran. Aspek ini memegang peranan penting karena melibatkan unsur materi, metode pembelajaran, dan rubrik penilaian. Ketiga, diperlukan kesiapan mental mahasiswa untuk menerima proses pembelajaran yang memosisikan mahasiswa sebagai pelaku (subjek), bukan lagi semata menjadi objek.

Di sinilah pentingnya paradigma SCL yang memosisikan mahasiswa dalam nuansa humanis, dimana dosen dan mahasiswa sebagai partner pembelajaran.Jika ini tercapai, maka harapan Problem-Posing Education (pendidikan hadap masalah) sebagaimana yang dimaksud Freire dapat terbangun, dimana dosen dan mahasiswa bersama-sama menjadi subjek dan disatukan oleh objek yang sama dan berfikir bersama. Dalam praktiknya, penerapan konsep Problem-Posing Education, dosen belajar dari mahasiswa dan mahasiswa belajar dari dosen. Dosen menjadi rekan mahasiswa yang melibatkan dirinya dan merangsang daya pemikiran kritis mahasiswa.



» Terima kasih telah membaca: Jangan Ada Aroma Penindasan dalam Pendidikan!
Sebarkan Melalui:

0 Response to "Jangan Ada Aroma Penindasan dalam Pendidikan!"

Post a Comment