Kampus sebagai Garda Terdepan dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0

4/21/2018

Pembicaraan soal era revolusi industri 4.0 telah menjadi substansi diskusi di berbagai pertemuan ilmiah, seperti dalam kuliah umum, seminar, rapat kerja, dan rapat koordinasi antar-lembaga dalam berbagai bidang. Ini mengindikasikan bahwa suka atau tidak suka, kita telah berada dalam arus era yang sedemikian cyber complex, global, dan terbuka. Perihal ini pulalah yang mengantarkan saya "ikut latah" dalam menulis postingan sederhana ini dengan harapan untuk mempercepat proses difusi informasi terkait perihal di atas.

Sepintas Tentang Revolusi Industri 4.0
Arus perubahan yang begitu cepat jauh sebelumnya telah diprediksi oleh Alvin Toffler yang dituangkan dalam karyanya Future Shock (1970). Istilah revolusi industri 4.0 kemudian menjadi booming dalam karya Klaus Schwab dengan judul The Fourth Industrial Revolution (2017). Menurutnya, era revolusi industri 4.0 sungguh berbeda dengan era sebelumnya. Pada era revolusi industri 1.0 digambarkan dengan tumbuhnya mekanisasi dan energi berbasis uap dan air. Selanjutnya dalam revolusi industri 2.0 dicirikan dengan berkembangnya energi listrik dan produksi massal. Kemudian pada era revolusi industri 3.0 ditunjukkan dengan tumbuhnya industri berbasis elektronika, informasi, dan otomatisasi. Sedangkan pada era revolusi industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya Internet of Things (IoT) yang dibarengi dengan teknologi baru dalam ilmu data, cloud, dan cetak tiga dimensi.

Untuk Lebih Jelasnya, Silakan  Simak Video Ilustrasi Revolusi Industri 4.0 Berikut.



Revolusi industri 4.0 menghadirkan dua kondisi yang seringkali dipandang dikotomis. Di satu sisi, era ini mempermudah pekerjaan manusia. Dengan perkembangan teknologi, orang bisa saja berjualan tanpa harus memiliki toko. Demikian juga usaha transportasi, bisnis taxi misalnya pun tidak harus memiliki mobil dalam jumlah yang banyak, sebut saja misalnya melalui aplikasi Grab. Arus perubahan dalam dunia internet begitu cepat dan tak terelakkan. Masalahnya kemudian adalah apakah laju perubahan teknologi baru itu mampu diserap oleh semua manusia? Mungkin saja sebagian anak manusia telah memainkan perannya dalam era ini, dan sebagian lagi masih awam. Kondisi demikian dikenal dengan istilah kesenjangan budaya (cultural lag). Di sinilah peran penting dari kampus untuk melakukan inovasi dari segala aspek untuk menyongsong era ini.

Pentingnya Inovasi dari Kampus
Era revolusi industri 4.0 telah hadir di depan mata, dan tidak dapat dihindari. Karena itu, kampus dituntut lebih kreatif, inovatif, dan melakukan perbaikan dalam berbagai aspek. Dalam menghadapi era ini bukan berarti kita harus jadi penonton, terlebih lagi tersinggung, kecewa, ataupun pesimis. Sebagai arus perubahan, maka pilihannya adalah apakah kita mampu menahkodai perubahan, atau sekadar penumpang, atau bahkan tergilas oleh perubahan (baca: Juggernaut). Tentu sebagai masyarakat ilmiah, kampus diharapkan kehadirannya sebagai inovator perubahan, tentu ke arah yang lebih baik (progress), sehingga harapan untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek literasi data (mencakup kemampuan dalam membaca, menganalisis, dan menggunakan data dalam dunia digital), literasi teknologi (mencakup kemampuan untuk memahami dan menggunakan sistem teknologi dalam dunia kerja, seperti coding atau bahasa teknologi komputer), dan literasi manusia (berupa kemampuan berkomunikasi dan desain kreatif dan inovatif.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kampus sebagai garda terdepan dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 diharapkan melakukan sejumlah inovasi mulai level mikro hingga makro. Pada level mikro, diantaranya: (1) Mempersiapkan sumber daya manusia khususnya dosen yang responsif dan adaptif. Persoalan kemudian adalah kalau dosen didominasi oleh generasi baby boomers dan generasi X yang enggan mengadaptasi perkembangan. Sementara mahasiswa yang dihadapi merupakan generasi Y atau generasi milenial (baca: Masyarakat Informasi). Untuk menyelaraskan kedua hal ini, maka dibutuhkan keterbukaan oleh dosen untuk meng-update Iptek-nya yang berbasis digital. Sekali lagi bukan justru kecewa atau mencibir arus perubahan. (2) Diperlukan penyesuaian kurikulum pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi unjuk kerja dan kemampuan dalam memanfaatkan data information technology (IT). (3) Memotivasi dan memfasilitasi mahasiswa agar mampu mencapai standar kompetensi dan keterampilan sebagaimana dimaksud di atas. Pada posisi ini diperlukan pula kesiapan dan kepedulian mahasiswa untuk saling berbagi informasi. Bukan lagi hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga tampil sebagai produsen informasi yang berkualitas.


» Terima kasih telah membaca: Kampus sebagai Garda Terdepan dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0
Sebarkan Melalui:

0 Response to "Kampus sebagai Garda Terdepan dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0"

Post a Comment