Melakukan Pembelajaran Berbasis Sharing Kompetensi

4/07/2018

Entah istilah sebagaimana judul ini terdapat dalam dunia pedagogik atau tidak. Yang pasti adalah saya tidak memiliki sedikitpun pengetahuan tentang teori-teori pedagogik secara formal. Tulisan ini sekadar pengalaman saya dalam proses pembelajaran. Boleh jadi pengalaman saya ini sangat buruk jika dipandang dari ahli pedagogik.

Paradigma pembelajaran di perguruan tinggi menekankan pada Student Centered Learning atau yang dikenal dengan istilah SCL yang memosisikan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran. Karena itu pentingnya posisi dosen sebagai motivator dan fasilitator pembelajaran. Dalam paradigma ini porsi metode ceramah bukanlah metode dominan.

Beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengaktifkan mahasiswa, diantaranya metode inquiri, simulasi, dan diskusi. Poin saya dalam postingan kali ini adalah metode diskusi. Metode pembelajaran dengan cara diskusi menjadi salah satu metode yang seringkali menjadi pilihan dosen. Umumnya, dosen membagi kelompok kemudian memberikan topik diskusi atau memberikan kelonggaran kepada mahasiswa memilih topik masing-masing. Namun tidak jarang kita jumpai seorang dosen lebih memilih ceramah melulu. Pasalnya, metode diskusi kurang efektif karena keaktifan selama proses diskusi hanya sebagian kecil saja dari anggota kelompok. Kedua kondisi tersebut semua ada benarnya, namun tidak sepenuhnya juga benar.

Perlunya Saling Sharing Kompetensi
Hemat saya, kekeliruan besar jika dalam metode diskusi seorang dosen membentuk kelompok diskusi tanpa ada pertimbangan. Pertimbangan yang saya maksud di sini adalah "kompetensi mahasiswa". Kompetensi itu bukan soal pintar vs bodoh, ataupun rajin vs malas. Perlu disadari bahwa setiap mahasiswa memiliki kompetensi. Tugas seorang dosen adalah menggali potensi yang ada pada diri mahasiswa. Jika dosen semata menilai mahasiswa berdasarkan kemampuan vokalnya dalam proses kuliah, maka sesungguhnya dosen telah melakukan penindasan kepada mahasiswa yang tidak memiliki kompetensi vokal. Padahal mungkin saja sebagian dari mereka memiliki kompetensi menulis. Sebaliknya, jika dosen semata mendasarkan penilaiannya pada kemampuan menulis, maka yang demikian itu pun sedang melakukan penindasan kepada mahasiswa yang hanya memiliki kompetensi vokal.

Karena itu, sudah seharusnya dosen memberi ruang kedua kompetensi tersebut. Lalu bagaimana cara melakukannya? Idealnya, jika mahasiswa dalam satu kelas terdapat 40 orang, maka ada 40 kompetensi yang berhasil dieksplore oleh dosen. Tipe ideal menurut saya ini tentulah sangat berat, dan karena itu di awal proses pembelajaran saya menyebarkan angket sederhana kepada mahasiswa yang bertujuan untuk memetakan kompetensi mahasiswa. Saya menyimpulkan 2 kompetensi dasar yang dapat dieksplore, yaitu kompetensi vokal (lisan) dan kompetensi menulis.

Setelah kita mengantongi data kompetensi mahasiswa barulah pembentukan kelompok dilakukan dengan cara "mendistribusikan" kedua kompetensi tersebut secara proporsional. Jadi setiap kelompok terdapat "keynote speaker". Tugas dari kedua kompetensi selanjutnya didesain berbeda berdasarkan kedua kompetensi tersebut. Bagi tim kelompok yang memiliki kompetensi menulis bertugas menyusun makalah sebagaimana topik yang telah diberikan kemudian dipublish dalam media online, sebut saja misalnya blog. Cara ini menuntut keseriusan mahasiswa dalam mengerjakan tugas karena publik dapat membacanya. Nah dari blog grup itulah mahasiswa yang memiliki kompetensi vokal akan mendapat materi yang akan dipresentasikan. Kolaborasi dua kompetensi dalam setiap kelompok diharapkan akan terjadi sharing kompetensi. Belum berakhir di sini. Seorang dosen harus membuat rubrik penilaian berdasarkan kedua kompetensi tersebut. Tentu dengan bobot proporsional yang sama.

Menggali kedua kompetensi ini saya lakukan karena nilai jual mahasiswa paling tidak ada pada kedua kompetensi tersebut, bukan pada kemolekan atau keperkasaan tubuhnya.


» Terima kasih telah membaca: Melakukan Pembelajaran Berbasis Sharing Kompetensi
Sebarkan Melalui:

1 Response to "Melakukan Pembelajaran Berbasis Sharing Kompetensi"