Mengenali Teori Bunuh Diri (Suicide) dari Emile Durkheim

4/30/2018


Bunuh diri merupakan salah satu fenomena sosial yang kerap terjadi dalam berbagai situasi sosial. Dalam referensi sosiologi, Emile Durkheim sosiolog asal Prancis dikenal sebagai branding teori ini sebagaimana dalam karyanya yang berjudul Suicide: A Study in Sociology. Dalam karyanya itu, Durkheim menaruh minat untuk mengetahui apa saja yang menjadi pemicu atau faktor penyebab seseorang melakukan bunuh diri. Pada prinsipnya, bunuh diri menurut Durkheim dapat diklasifikasikan ke dalam dua (2) faktor utama, yaitu masalah solidaritas sosial dan stabilitas sosial. Bunuh diri dalam konteks ini terjadi ketika kedua faktor tersebut berada dalam situasi atau kondisi ekstrem (terlalu tinggi – terlalu rendah; atau terlalu kuat – terlalu lemah). Dalam postingan singkat ini, saya mencoba menguraikan secara singkat substansi dari empat (4) situasi ekstrem tersebut.

Tipe 1: Egoistic Suicide
Bunuh diri dalam tipe ini menggambarkan suatu kondisi dimana solidaritas sosial dalam suatu kelompok, komunitas, atau masyarakat terlalu rendah. Dalam hal ini seseorang melakukan tindakan bunuh diri manakala ia merasa terpisah dan sendiri (ego) dari kelompoknya, komunitasnya, atau masyarakatnya. Atas situasi kesendiriannya itu, seorang merasakan tekanan batin, dan menganggap bahwa jika dirinya melakukan bunuh diri, maka tidak seorangpun dalam masyarakat yang merasakan kesedihan. Akumulasi dari kondisi lemahnya solidaritas tersebut berujuang pada keputusan untuk mengakhiri hidupnya.

Tipe 2: Altruistic Suicide
Lain halnya dengan tipe bunuh diri egoistic, perihal bunuh diri altruistic terjadi karena adanya ikatan solidaritas yang sangat tinggi. Pelaku bunuh diri dalam pengertian ini beranggapan bahwa pengorbanannya merupakan bentuk kesetiakawanan atas kepentingan orang lain atau masyarakat. Pada tipe ini bunuh diri dilakukan karena memiliki manfaat bagi orang banyak (utilitarian dan pragmatis).

Tipe 3: Anomic Suicide
Perubahan secara drastis terkadang menjadi pemicu psikologis bagi diri seseorang. Perubahan di sini dapat berupa nilai materil maupun non materil. Secara materil misalnya dapat kita lihat dengan perubahan dari semua memiliki jabatan kemudian lengser tanpa jabatan; semula dikenal sebagai konglomerat tiba-tiba menjadi melarat. Demikian pula dari aspek non materil misalnya perihal keagamaan, dimana seseorang keluar dari satu agama dan belum memeluk agama baru. Sekelumit permasalahan terbut menunjukkan tidak adanya pegangan (anomi) yang menjadi dasar kontrol diri seseorang. Kondisi ketiadaan tersebut mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri dalam suatu kondisi stabilitas yang sangat lemah.

Tipe 4: Fatalistic Suicide
Tipe bunuh diri ini merupakan kebalikan dari dari tipe anomic yang digambarkan dalam suatu kondisi dimana begitu kuatnya regulasi yang mengekang kehidupan seseorang. Seseorang yang melalakukan bunuh diri dalam skenario diri mencerminkan diri seseorang yang merasa kalah dengan kerasnya kehidupan. Seseorang dalam hidupnya merasakan selalu dihantui dengan hambatan dan kegagalan. Harapan hidupnya tentang dunia begitu buruk, sehingga memilih mengakhiri kehidupannya dengan cara bunuh diri.
  
Keempat tipe bunuh diri sebagaimana uraian singkat di atas dapat diilustrasikan pada gambar berikut ini.


» Terima kasih telah membaca: Mengenali Teori Bunuh Diri (Suicide) dari Emile Durkheim
Sebarkan Melalui:

0 Response to "Mengenali Teori Bunuh Diri (Suicide) dari Emile Durkheim"

Post a Comment